Menu Cucurak: Mengupas Filosofi, Hukum, dan Ragam Menu Tradisi Jelang Ramadhan

garnier Paket hemat isi 2

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di Tatar Sunda, khususnya wilayah Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, memiliki sebuah tradisi unik yang selalu dinanti-nanti. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Cucurak. Istilah ini mungkin terdengar asing bagi masyarakat di luar Jawa Barat, namun bagi “Urang Sunda”, cucurak adalah momen sakral kedua setelah Idul Fitri yang menyatukan seluruh anggota keluarga, rekan kerja, dan sahabat dalam satu lingkaran kehangatan.

menu cucurak
menu cucurak
Memperbaiki kulit dengan Skintific

Secara harfiah dalam bahasa Sunda, cucurak berasal dari kata curak-curak yang berarti bersenang-senang atau berkumpul dengan penuh kegembiraan. Tradisi ini bukan sekadar pesta makan biasa. Di dalamnya terkandung nilai filosofis yang mendalam tentang silaturahmi (ukhuwah), saling memaafkan (ishlah), dan berbagi rezeki (shadaqah) sebagai persiapan rohani sebelum memasuki bulan puasa. Dalam artikel ini, kita akan menyelami lebih jauh tentang esensi cucurak, hukumnya dalam pandangan Islam, serta membedah ragam Menu cucurak yang otentik dan menggugah selera.

Filosofi dan Makna Cucurak: Lebih dari Sekadar Makan Besar

Tradisi cucurak biasanya dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Sya’ban atau satu hingga dua hari sebelum 1 Ramadhan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan selama setahun. Dalam pelaksanaannya, cucurak identik dengan konsep makan bersama di atas daun pisang yang digelar memanjang. Semua orang, tanpa memandang status sosial—apakah dia atasan atau bawahan, orang tua atau anak muda—duduk sejajar di lantai mengelilingi hidangan.

Konsep duduk sama rendah ini mengajarkan tentang kesetaraan di hadapan Allah SWT. Bahwa ketika Ramadhan tiba, semua manusia memiliki kewajiban yang sama untuk menahan lapar dan dahaga. Tidak ada yang lebih istimewa kecuali ketakwaannya. Momen cucurak sering diakhiri dengan acara mushafahah atau bersalam-salaman saling memaafkan. Dengan demikian, ketika memasuki hari pertama puasa, hati sudah bersih dari dendam dan dengki, sehingga ibadah bisa dijalankan dengan khusyuk.

Tinjauan Hukum Islam: Apakah Cucurak Diperbolehkan?

Sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya, bagaimana Hukum cucurak dalam islam? Apakah ini termasuk bid’ah atau tradisi yang diperbolehkan (mubah)? Para ulama berpendapat bahwa hukum asal dari segala sesuatu yang berkaitan dengan muamalah (hubungan antarmanusia) dan adat istiadat adalah boleh (mubah), selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Cucurak pada dasarnya adalah bentuk lain dari makan bersama dan silaturahmi. Dalam Islam, silaturahmi adalah amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, tradisi memberi makan (ith’am at-tha’am) juga merupakan amalan mulia.

Namun, cucurak bisa berubah hukumnya menjadi makruh atau bahkan haram jika di dalamnya terdapat unsur-unsur yang melanggar syariat, seperti:

  1. Ikhtilath: Bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa batasan yang syar’i.
  2. Tabdzir: Berlebih-lebihan dalam makanan hingga banyak yang terbuang mubazir.
  3. Ghibah: Acara kumpul-kumpul yang justru dijadikan ajang untuk membicarakan keburukan orang lain.
  4. Melalaikan Kewajiban: Saking asyiknya makan-makan hingga melupakan waktu shalat wajib.

Selama cucurak diniatkan untuk tahaddu bi ni’mah (mensyukuri nikmat) menyambut Ramadhan dan mempererat ukhuwah, maka tradisi ini bernilai ibadah dan sangat positif untuk dilestarikan.

Ragam Menu Cucurak: Simfoni Rasa Khas Sunda

Menu hidangan dalam acara cucurak hampir selalu didominasi oleh masakan Sunda tradisional. Ciri khas utamanya adalah kesederhanaan bahan namun kaya akan rasa, serta selalu dilengkapi dengan lalapan segar dan sambal yang “nendang”. Berikut adalah bedah menu populer yang wajib ada:

1. Nasi Liwet Kastrol: Primadona Hidangan

Berbeda dengan nasi putih biasa, nasi liwet Sunda dimasak langsung di dalam panci khusus yang disebut kastrol atau ketel. Beras dimasak bersama santan (opsional), serai, daun salam, lengkuas, cabai rawit utuh, dan taburan ikan teri medan atau ikan asin jambal roti di atasnya. Aroma rempah yang meresap ke dalam nasi membuat nasi liwet ini sudah enak dimakan begitu saja tanpa lauk. Kerak nasi yang menempel di dasar kastrol (disebut intip) seringkali menjadi rebutan yang paling seru.

2. Lauk Pauk Tradisional (Protein)

  • Ayam Goreng Lengkuas: Ayam ungkep bumbu kuning yang digoreng garing dengan taburan serundeng lengkuas yang gurih.
  • Ikan Asin: Jenis ikan asin peda merah goreng, gabus asin, atau cumi asin cabai hijau adalah pendamping wajib nasi liwet. Rasa asin yang kuat sangat pas untuk menyeimbangkan rasa nasi yang gurih lembut.
  • Gepuk Daging Sapi: Daging sapi yang direbus lama hingga empuk, dipukul-pukul (digepuk) hingga seratnya terurai, lalu digoreng manis gurih.
  • Pepes (Pais): Berbagai jenis pepes seperti pepes tahu, pepes jamur, pepes ikan mas, atau pepes oncom. Aroma daun pisang yang terbakar memberikan sensasi rasa smokey yang khas.

3. Pelengkap Sayur dan Lalapan

  • Sayur Asem: Kuah sayur asem yang segar dengan isian labu siam, kacang panjang, jagung manis, dan melinjo sangat cocok untuk menyegarkan tenggorokan setelah menyantap makanan berminyak.
  • Karedok: Salad mentah khas Sunda berisi kacang panjang, toge, kol, terong bulat, dan daun kemangi yang disiram bumbu kacang kencur yang wangi.
  • Urap Sayur: Sayuran rebus yang dicampur dengan kelapa parut berbumbu pedas.
  • Lalapan Mentah: Timun, selada, daun poh-pohan, leunca, dan petai/jengkol (bagi yang suka) adalah identitas kuliner Sunda yang tak boleh absen.

4. Sambal Dadak

Tidak ada cucurak tanpa sambal. Sambal yang disajikan biasanya adalah sambal terasi dadak (dibuat sesaat sebelum makan) atau sambal goang (cabai rawit dan garam yang diulek kasar). Rasa pedas yang menyengat justru menambah nafsu makan dan membuat suasana semakin meriah dengan keringat yang bercucuran.

Rekomendasi Tempat Cucurak Populer di Bogor (2026)

Bagi Anda yang tidak sempat memasak sendiri, Bogor sebagai “ibukota” tradisi cucurak menawarkan banyak pilihan restoran yang menyediakan paket khusus. Berikut adalah beberapa tempat legendaris dan estimasi harganya:

1. Cucurak Warung Sunda
Restoran ini secara spesifik mengambil nama dari tradisi tersebut. Mereka memiliki beberapa cabang seperti di Air Mancur, Bogor Tengah, dan Bogor Barat.

  • Menu Andalan: Paket Liwet 1 Meter yang disajikan di atas tampah panjang bambu.
  • Estimasi Harga: Paket keluarga untuk 4-6 orang berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 400.000. Tersedia juga paket nasi box “Cucurak on the Go” mulai dari Rp 26.000 per porsi.
  • Keunggulan: Rasa yang otentik dan porsi yang sangat royal, cocok untuk rombongan besar.

2. Gurih 7 Bogor
Terletak di Jalan Pajajaran, tempat ini menawarkan suasana makan di saung-saung di atas kolam ikan dengan suara gemericik air terjun buatan.

  • Suasana: Sangat asri dan menenangkan, cocok untuk healing sejenak dari hiruk pikuk kota.
  • Menu Spesial: Gurame terbang dan cumi bakar madu.
  • Harga: Sedikit lebih premium, dengan kisaran Rp 75.000 – Rp 120.000 per orang.

3. Saung Kuring
Berlokasi di Jalan Sholeh Iskandar, restoran ini adalah legenda kuliner Bogor.

  • Menu: Terkenal dengan kangkung hotplate dan gurame bumbu cobek.
  • Fasilitas: Memiliki area parkir luas dan playground anak, sangat ramah keluarga.

4. Warung Nasi Alam Sunda
Meski konsepnya lebih sederhana seperti warung prasmanan, tempat ini selalu antre karena sambalnya yang juara dan sistem ambil sambal/lalapan sepuasnya. Sangat cocok untuk cucurak dengan budget yang lebih hemat namun rasa maksimal.

Tips Mengadakan Cucurak di Rumah

Jika Anda ingin mengadakan cucurak sendiri di rumah atau kantor agar lebih intim, berikut beberapa tipsnya:

  1. Gunakan Daun Pisang: Gelar daun pisang utuh (yang sudah dibersihkan) di atas meja atau lantai sebagai alas makan. Ini adalah inti dari sensasi cucurak.
  2. Sajikan Secara Komunal: Jangan bagikan piring satu per satu. Tumpahkan nasi liwet di sepanjang daun pisang, lalu tata lauk pauk di atasnya secara menyebar agar semua orang bisa menjangkau.
  3. Menu Potluck: Agar tidak memberatkan tuan rumah, terapkan sistem potluck di mana setiap peserta membawa satu jenis lauk yang berbeda. Ini akan menambah variasi makanan dan rasa kebersamaan.
  4. Kebersihan: Pastikan semua peserta mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, karena tradisi ini paling nikmat disantap langsung menggunakan tangan (muluk).

Menu cucurak sejatinya bukan hanya tentang makanan. Ia adalah medium komunikasi sosial yang merekatkan kembali hubungan antarmanusia. Di tengah era digital yang membuat interaksi fisik semakin berkurang, tradisi cucurak menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sederhana bisa didapat dari duduk bersama, berbagi nasi liwet, dan tertawa lepas menyambut bulan suci yang penuh berkah. Jadi, sudahkah Anda merencanakan agenda cucurak tahun ini?